A. Pendekatan Teori Psikologi Lingkungan
Ada 3 orientasi teori besar dalam psikologi lingkungan yang menjelaskan dan memprediksi perilaku manusia. Pertama, perilaku disebabkan oleh faktor dalam (deterministik). Dua, perilaku disebabakan faktor lingkungan atau proses belajar. Ketiga, perilaku disebabkan interaksi manusia-lingkungan.
Beberapa pendekatan teori dalam psikologi lingkungan yaitu : Teori Arousal, Teori Stimulus Berlebihan, Teori Kendala Perilaku, Teori Tingkat Adaptasi, Teori Stres Lingkungan, dan Teori Ekologi.
1. Teori Arousal (Arousal Theory)
Arousal (pembangkit) : tingkat keterbangkitan adalah bagian penting dari emosi. Teori ini berpendapat bahwa emosi tingkat tinggi dalam keterbangkitan seperti : kemarahan, ketakutan dan kenikmatan, sedangkan tingkat keterbangkitan yang rendah seperti : kesedihan dan depresi (Dwi Riyanti dan prabowo, 1997). Dalam psikologi lingkungan hubungan antara arousal dengan kinerja.
Menurut Mandler (dalam Hardy dan Hayes, 1985) menjelaskan bahwa emosi muncul pada saat tidak diharapkan atau pada saat rintangan yang tertantang untuk mencapai tujuan yang menimbulkan pengalaman emosional. Perubahan emosi yang secara ekstrim seperti : bergembira dan bergairah pada saat tertentu atau perasaan dukacita. Mandler menamakan sebagai teori interupsi. Manusia memiliki motivasi untuk mencapainya yang disebut “dorongan-keinginan otonomik” fungsinya untuk memunculkan arousal sehingga dapat berubah-ubah dari aktifitas ke satu aktifitas lainya
Menurut sarwono, 1992 dalam psikologi lingkungan hubungan antara arousal dengan kinerja seseorang dijelaskan : tingkat arousal yang rendah akan menghasilkan kinerja yang rendah, makin tinggi tingkat arousal akan menghasilkan kinerja yang tinggi pula.
2. Teori Beban Stimulus (Stimulus Load Theory)
Teori beban stimulus adalah adanya dugaan bahwa manusia memiliki kapasitas yang terbatas dalam memproses informasi. Menurut Cohan (dalam Veitch & Arkkelin, 1995) input (masukan) yang melebihi kapasitas akan cenderung untuk mengabaikan beberapa masukan dan mencurahkan perhatian lebih banyak ke hal lain. Jika kelebihan kapasitas sehingga individu tidak mampu lagi mengatasi kognisinya, maka menyebabkan individu mengalami gangguan kejiwaan seperti merasa tertekan, bosan, dan tidak berdaya. Manusia akan memilih stimulus mana yang akan dipriotaskan atau diabaikan untuk menentukan reaksi-reaksi positif dan negatif terhadap lingkungan.
Teori ini juga mempelajari pengaruh stimulus lingkungan yang kurang menguntungkan. Perilaku-perulaku yang muncul dalam situasi tertentu ada yang understimulus ataupun berbalik menjadi overstimulus.
3. Teori Kendala Perilaku (Behavioral Constrain Theory)
Teori Kendala Perilaku membahas tentang kenyataan, atau perasaan, kesan yang terbatas dari individu terhadap lingkungan. Menurut Stokols (dalam Veitch & Arkkelin, 1995) lingkungan dapat mencegah, mencampuri, atau membatasi membatasi perilaku penghuni. Teori ini berkenyakinan dalam situasi tertentu seseorang benar-benar kehilangna beberapa tingkat kendali lingkunganya.
Brem-brem (dalam Veitch & Arkkelin, 1995) memiliki enomena ini beistilah reakstansi psikologi (psycological reanctance). Berpendapat ketika merasakan bahwa kita sedang kehilangan kontrol atau kendali terhadap lingkungan, berawal dari merasa dalam diri yang tidak nyaman kemudian mencoba menekankan lagi fungsi kendali kita.
Sarwono (1992) menjelaskan situasi yang tidak menyenangkan jika pilihan alternatif tidak ada, atau bertingkahlaku alternatif lain yang dicoba untuk dikakukannya ternyata gagal dalam mengatasinya dan terjadi berulangkali, maka akan memunculkan perasaan putus asa ataupun tidak berdaya. Ketidakberdayaan inilah yang disebut learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari).
4. Teori Tingkat Adaptasi
Sarwono (dalam Veitch & Arkkelin, 1995) teori tingkat adapatasi lebih membicarakan secara spesifik, yaitu 2 proses yang terkait pada hubungan tersebut:
a. adaptasi adalah mengubah tingkah laku atau respon-respon agar sesuai dengan lingkunganya, misalnya dalam situasi yang keadaan dingin atau suhu menurun yang menyebabkan terjadinya otot kaku dan dapat menurunkan aktifitas motorik.
b. Adjustment adalah mengubah lingkungan supaya menjadi sesuai dengan lingkunganya, misalnya keadaan dingin bisa saja orang membakar kayu untuk memenaskan tubuhnya. Salah satu cara tersebut dilakuakan seseoarang supaya tercapainya keseimbangan dengan lingkungannya (homeostatis).
Teori ini mirip dengan teori stimulus berlebihan, menjelakan bahwa suatu stimulus dapat dirumuskan untuk mengoptimalkan perilaku. Nilai lain pada pendekatan ini adalah pengenalan tingkat adaptasi pada individu. Tingkat adaptasi dimana pada akhirnya individu terbiasa dengan lingkunganya atau tingkat pengharapan individu pada kondisi lingkungan tertentu. Bahkan pendekatan ini ketika menghadapi lingkungan yang sama akan memunculkan respon yang berbeda-beda.
Sarwono (1992) terdapat 3 katagori stimulus yang dijadikan acuan dalam psikologi lingkungan dengan tingkah laku yaitu : Stimulus fisik yang merangsang indra (suara, cahaya, suhu udara), Stimulus sosial dan gerakan. Dari ke tiga stimlus mengandung dimensi yaitu : intensitas,diversitas,dan pola
5. Teori stres lingkungan
Teori stres menekankan pada mediasi peran-peran, fisiologi, kognisi dalam interaksi antara manusia dan lingkungan. Pengindraan manusia dimana suatu respons stres yang terjadi pada segi-segi lingkungan melebihi tingkat optimal dan manusia itu akan merespons berbagai cara untuk mengurangi stres. Menurut (Sarwono,1992) reaksi waspada (alarm reaction) terhadap stresor dapat berupa meningkatnya denyut jantung atau meningkatnya adrenaliin, sementara reaksi penolakan dapat berupa tubh menggigil kedinginan atau berkeringat kepanasan. Suatu bentuk coping, ketika individu akan bereaksi terhadap stresor, individu menghindar dan menyerang secara fisik atau verbal, atau mencari kompromi.
6. Teori ekologi
Menurut pemikiran oara ahli teori ekologi adalah gagasan tentang kecocokan manusia dengan lingkungan. Menurut Roger (dalam Sarwono, 1992) tingkah laku tidak hanya ditentukan dari gagasan kecocokan manusia dengan lingkungan, melainkan keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan.
Menurut baker hubungan tingkah laku dengan lingkungan adalah seperti dua arah atau interpendensi ekologi dan mempelajari hubungan timbal balik antara lingkungan dengan tingkah laku. Pada teori baker terdapat seting perilaku adalah pola tingkah laku kelompok bukan individu yang terjadi akibat kondisi lingkungan tertentu (physical milleu).
Dikatakan oleh Vitch dan Arkkelin (1995) bahwa belum ada grands theories psikologi terdiri dalam psikologi lingkungan dan yang baru ini dalam tataran mini. Beberapa teori ini dari dasar empiris tetapi kurang didukung dari data empiris dan metode penelitian yang digunakan belum konsisten. Olehkarena itu 3 orientasi teori psikologi yang slanjutnya akan dipaparkan secara mendalam mengenai teori mini dalam psikologi. Salah satu teori medan Kurt Lewin dengan bermula B=f (E,O). Perilaku merupakan fungsi dari lingkungan dan organisme. Berdasarkan premis dasar muncul beberapa teori mini seperti : teori beban lingkungan, teori hambatan perilaku, teori level adaptasi. Teori stres lingkungan dan teori ekologi.
Yang berbeda dari teori sebelumnya, akan dijelaskan adalah
Teori Beban lingkungan
Premis dasar teori ini adalah manusia mempunyai kapasitas terbatas. Menurut Cohen ada 4 dasar teori ini yaitu :
a. Manusia mempunyai kapasitas yang terbatas dalam pemrosesan informasi.
b. Ketika stimulus lingkungan melebihi kapasitas pemrosesan informasi, pemrosesan perhatian tidak akan dilakukan secara optimal.
c. Ketika stimulus sedang berlangsung diperlukan respon adaptif yaitu stimulus akan di evaluasi melalui proses pemantauan dana keputusan dibuat atas dasar respon pengatasan masalah
d. Jumlah perhatian yang diberikan orang tidak konstan sepanjang waktu tetapi tidak sesuai kebutuhan.
B. Metode Penelitian Dalam Psikologi Lingkungan
Veitch dan Arkkelin (1995) ada 3 metode yang biasa digunakan dalam psikologi lingkungan. Ketiga metode penelitian itu adalah: Eksperimen Laboratorium, Studi Korelasi, dan Eksperimen Lapangan.
a) Eksperimen Laboratorium
Veitch dan Arkkelin (1995), jika seorang peneliti memiliki perhatian terutama yang berhubungan dengan tingginya validitas internal, maka eksperimen laboratorium merupakan pilihan yang biasa diambil. Metode ini memberikan kebebasan kepada eksperimenter untuk memanipulasi secara sistematis variabel yang diasumsikan sebagai penyebab dengan cara mengontrol kondisi-kondisi secara cermat yang bertujuan untuk mengurangi variable-variabel yang mengganggu (extraneous variables). Metode eksperimen laboratorium juga mengatur pengaruh manipulasi-manipulasi tersebut. Dengan ini, maka hasil pengumpulan data adalah benar-benar variabel yang telah dimanipulasikan oleh eksperimenter. Metode ini memilih subjek secara random dalam kondisi eksperimen, jadi setiap subjek memiliki kesempatan yang sama dalam setiap kondisi eksperimen.
b) Studi Korelasi
Veitch dan Arkkelin (1995), jika seorang peneliti ingin memastikan tingkat validitas eksternal yang tinggi, maka seorang peneliti dapat menggunakan variasi-variasi dari metode korelasi. Pada metode ini, studinya dirancang untuk menyediakan informasi tentang hubungan-hubungan di antara peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam nyata yang tidak dibebani oleh pengaruh pengumpulan data.
Ketika korelasi digunakan, maka tidak ada penyimpulan yang dimungkinkan, karena hanya diketahui dari dua atau lebih variabel yang berhubungan satu dengan yang lain. Sebagai contoh, seorang peneliti dapat menentukan bahwa kepadatan penduduk berhubungan dengan bermacam indikator dari patologi sosial dengan menggunakan metode korelasi, tetapi dia tidak dapat memberikan pernyataan bahwa kepadatan penduduk menyebabkan patologi sosial. Berbeda dengan eksperimen laboratorium, studi korelasi meminimalkan validitas eksternal tetapi seringkali validitas internalnya lemah.
c) Eksperimen Lapangan
Veitch dan Arkkelin (1995), jika seorang peneliti ingin menyeimbangkan antara validitas internal yang dapat dicapai melalui eksperimen laboratoruim dengan validitas internal yang dicapai melalui studi korelasi, maka dia dapat menggunakan eksperimen lapangan sebagai metode campurannya. Dengan menggunakan metode ini, eksperimenter secara sistematis memanipulasi beberapa faktor penyebab yang diajukan dalam penelitian dengan mempertimbangkan variabel eksternal dalam suatu seting tertentu.
Untuk mencapai pengertian ilmiah terhadap suatu fenomena, seorang ilmuwan tidak hanya mengembangkan teori serta mengamati segala yang menjadi minatnya. Namun juga menentukan metode terbaik, baik untuk menguji teori maupun tujuan pengamatan. Pada analisis terakhir, peneliti harus menentukan tujuan spesifik penelitian kemudian memilih metode yang paling sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Selasa, 22 Februari 2011
Senin, 14 Februari 2011
pengantar psikologi lingkungan
Psikologi Lingkungan
A. Latar belakang Sejarah psikologi lingkungan
Pada tahun 1943 Kurt Lewin memberikan istilah Psychological Ecology (Ekologi Psikologi). Egon brunswik dengan beberapa mahasiswa mengajukan istilah lagi yaitu Ecological Psychologi (psikologi ekologi.
Pada tahun 1947 Roger Barker dan Herbert Wright untuk suatu unit ekologi kecil yang melikupi prilaku manusia sehari-hari memperkenalkan istilah Behavioral Setting (Seting Perilaku).
Tahun 1961 dan 1966 pertama kali ketika di adakan konferensi pertama di utah memperkenalkan istilah Architektural Psychology (Psikologi Arsitektur). Namun banyak yang menggunakan istilah “Environment and behavior” lingkungan dan tingkah laku pada tahun 1960’an.
Baru pada tahun 1968 Harold proshansky dan william ittelson yang memperkenalkan program tingkat doktoral di bidang Environmental Psychology di CNUY.
Krut Lewin pertama kali memperkenalkan Field Theory (Teori Medan) yang mengatakan bahwa tingkah laku adalah fungsi dari pribadi dan lingkungan. Teori ini mempertimbangakan interaksi antara lingkungan dan manusia. Dalam rumusannya TL = f(P.L).
TL = tingkah laku, f = fungsi , P = pribadi, L = lingkungan
Masing – masing komponen tersebut mempunyai kekuatan-kekuatan yang terjadi pada medan interaksi , yaitu daya tarik, daya mendekat, daya tolak dan daya menjauh.
B. Definisi Psikologi Lingkungan
Beberapa tokoh akan mendefinisikan psikologi lingkungan yang memiliki beragam batasan, yaitu :
1. Heimasta dan Mc Farling (dalam Prawitasari, 1989) : Psikologi lingkungan adalah disiplin yang memperhatikan dan mempelajari hubungan antara perilaku manusia dengan lingkungan fisik.
2. Gifford (1987) : Psikologi lingkungan adalah sebagai studi dari transaksi diantara individu dengan seting fisiknya. Transaksi yang terjadi pada individu akan mwngubah lingkungan dan sebaliknya individu di ubah oleh lingkungan. Jadi manusia dan lingkungan akan saling mempengaruhi.
3. Ahli lain Canter dan Craik (dalam Prawitasari, 1989) : Psikologi lingkungan adalah area psikologi yanga melakukan konjungsi dan analisis tentang transaksi hubungan antara pengalaman dan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan lingkungan sosio fisik.
4. Emery dan Tryst (dalam Soesilo, 1989) : Psikologi lingkungan adalah hubungan antara manusia dengan lingkungan yang merupakan suatu jaringan transactional Interdependen menjadi ketergantungan satu sama lain.
5. Veicth dan Arkkelin (1995) : Psikologi lingkungan adalah ilmu perilaku multidisiplin yang memiliki orientasi dasar dan terapi yang memfokuskan interrelasi antara perilaku dan pengalaman manusia sebagai individu dengan lingkungan fisik dan sosial.
Veitch dan Arkkelin (1995) membahas unsur-unsur dari pengertian psikologi lingkungan yaitu, perilaku manusia, perspektif disiplin ilmu dan masalah teori atau praktek.
1. Para ahli psikologi menjabarkan perilaku psikologi dengan proses-proses fisiologi, psikologi, dan perilaku manusia.
a. Proses fisiologi meliputi : detak jantung, respon kulit galvonis, reflek, dsb.
b. Proses psikologi meliputi : stres, perubahan sikap, kepuasan, dsb.
c. Proses perilaku meliputi : agresi, kinerja, alturisme, dsb.
2. Dalam penelitiannya mengunakan perspektif interdipliner, dalam kaitanya psikologi lingkungan dengan perilaku manusia, maka disebutkan sejumlah teori dimana dalam perspektif ini, antara lain : metodologi dan geofisika, kimia, fisika, arsitek dan biologi. Menurut Veitch dan Arkkelin yang terlibat didalamnya antara lain :
• Geografi : beberapa ahli sejarah dan geografi mencoba menerangkan jatuh bangunnya peradapan disebabkan oleh karakteristik lingkungan. Sebagai contoh, Thoybe mengembangkan teori bahwa lingkungan adalah tantangan bagi penduduk yang tinggal di lingkungan tersebut. Tantangan lingkungan yang ekstrim akan menimbulkan rusaknya peradaban. Sedangkan yang kecil hanya akan mengakibatkan stagnasi kebudayaan. Tantangan tingkat menengah juga dapat mempengaruhi perkembangan peradaban.
Kaeakteristik lingkungan seperti : spesifik topologi, iklim, vegestasi, ketersedian air, dsb.
• Biologi Ekologi : perkembangan teori-teori ekologi adanya ketergantungan biologi dan sosiologi yang berkaitan hubungan antara manusia dengan lingkungan. Dengan berkembangnya ilmu ekologi, seorang tidak dianggap terpisah dari lingkungannya, hubungan saling tergantung antara manusia dengan lingkungan.
• Behaviorisme : pemikiran yang datang dari cabang disiplin psikologi sendiri adalah behaviorsme. Pemikiran behaviorisme muncul sebagai reaksi atas kegagalan teori-teori kepribadian untuk menerangkan prilaku manusia. Pada saat ini secara umum dapat diterima bahwa dua hal penting yang menjadi pertimbangan adalah korteks lingkungan dimana suatu perilaku muncul dan variabel-variabel personal seperti kepribadian dan atau sikap. Dua hal ini akan lebih dapat diramalkan suatu fenomena manusia dengan lingkungan daripada jika dibuat pengukuran sendiri-sendiri.
• Psikologi gestalt : berkembangnya psikologi ini berbarengan dengan behaviorisme bahkan psikologi gestalt lebih menekankan pada persepsi dan kognisi sebagai perilaku yang tampak (overt behavior). Psikologi gestalt mempunyai prinsip penting yaitu, objek-objek, orang-orang, dan seting-seting dipersepsi sebagai suatu keseluruhan. Perilaku didasarkan dari proses kognitif bukan dipengaruhi oleh proses stimulus tetapi dari persepsi terhadap stimulus. Pengaruh psikologi gestalt pada psikologi lingkungan antara lain, menjelaskan persepsi, berfikir dan pemerosesan informasi lingkungan.
C. Ruang lingkup
Menurut Proshansky (1947), psikologi lingkungan memberi perhatian terhadap manusia, tempat, serta perilaku dan pengalaman manusia yang berhubungan dengan setting fisik. Setting fisik disini bukan hanya berupa rangsangan fisik, tetapi juga termasuk sebuah kompleksitas yang terdiri dari beberapa setting fisik dimana seseorang tinggal dan melakukan aktivitasnya. Sehubungan dengan itu, bisa dikatakan pusat perhatian psikologi lingkungan adalah lingkungan binaan atau built environment.
Lebih jauh, pembahasan mengenai lingkup psikologi lingkungan juga mencakup :
1. Rancangan (desain)
2. Organisasi & pemaknaan
3. hal-hal spesifik seperti : ruang kamar, perumahan, pemilihan warna, pesawat, seting kota, tempat rekreasi, hutan alami.
Pada era ‘70-an, muncul istilah Sosiologi Lingkungan. Perbedaan pada unit analisanya seperti :
• Psikologi Lingkungan adalah pada unit analisisnya : kumpulan manuisa sebagai individu.
• Sosiologi Lingkungan : unit-unit dalam masyarakat (lebih ke sosial)
• Psikologi Lingkungan : manusia dan kumpulan manusia sebagai individu (lebih ke individu)
Ada 4 jenis lingkungan dalam Sosiologi Lingkungan yang sering juga dipakai dalam Psikologi Lingkungan, terutama 2 poin pertama :
1. Natural Environment : laut, hutan, pegunungan, gurun, dsb
2. Built Environment : jalan raya, apartemen, taman kota, lapangan bola, dsb
3. Social Environment
4. Modified Environment
D. Ambient Condition & Architectural Features
Hubungan dengan lingkungan fisik menurut Wrightman & Deaux terdapat 2 bentuk kualitas:
1. Ambient Condition : Kualitas fisik keadaan sekitar individu
misalnya : sound, cahaya, warna, temperatur, dsb
3. Architectural Features : mencakup setting-setting yang bersifat permanen. Suatu ruangan antara lain konfigurasi dinding, lantai, atap, serta peralatan perabotan dan dekorasi
Sumber :
Prabowo, H. 1998. Pengantar Psikologi Lingkungan. Seri Diktat Kuliah. Jakarta: Penerbit Gunadarma.
http://avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/psikologilingkungan_avin.pdf
A. Latar belakang Sejarah psikologi lingkungan
Pada tahun 1943 Kurt Lewin memberikan istilah Psychological Ecology (Ekologi Psikologi). Egon brunswik dengan beberapa mahasiswa mengajukan istilah lagi yaitu Ecological Psychologi (psikologi ekologi.
Pada tahun 1947 Roger Barker dan Herbert Wright untuk suatu unit ekologi kecil yang melikupi prilaku manusia sehari-hari memperkenalkan istilah Behavioral Setting (Seting Perilaku).
Tahun 1961 dan 1966 pertama kali ketika di adakan konferensi pertama di utah memperkenalkan istilah Architektural Psychology (Psikologi Arsitektur). Namun banyak yang menggunakan istilah “Environment and behavior” lingkungan dan tingkah laku pada tahun 1960’an.
Baru pada tahun 1968 Harold proshansky dan william ittelson yang memperkenalkan program tingkat doktoral di bidang Environmental Psychology di CNUY.
Krut Lewin pertama kali memperkenalkan Field Theory (Teori Medan) yang mengatakan bahwa tingkah laku adalah fungsi dari pribadi dan lingkungan. Teori ini mempertimbangakan interaksi antara lingkungan dan manusia. Dalam rumusannya TL = f(P.L).
TL = tingkah laku, f = fungsi , P = pribadi, L = lingkungan
Masing – masing komponen tersebut mempunyai kekuatan-kekuatan yang terjadi pada medan interaksi , yaitu daya tarik, daya mendekat, daya tolak dan daya menjauh.
B. Definisi Psikologi Lingkungan
Beberapa tokoh akan mendefinisikan psikologi lingkungan yang memiliki beragam batasan, yaitu :
1. Heimasta dan Mc Farling (dalam Prawitasari, 1989) : Psikologi lingkungan adalah disiplin yang memperhatikan dan mempelajari hubungan antara perilaku manusia dengan lingkungan fisik.
2. Gifford (1987) : Psikologi lingkungan adalah sebagai studi dari transaksi diantara individu dengan seting fisiknya. Transaksi yang terjadi pada individu akan mwngubah lingkungan dan sebaliknya individu di ubah oleh lingkungan. Jadi manusia dan lingkungan akan saling mempengaruhi.
3. Ahli lain Canter dan Craik (dalam Prawitasari, 1989) : Psikologi lingkungan adalah area psikologi yanga melakukan konjungsi dan analisis tentang transaksi hubungan antara pengalaman dan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan lingkungan sosio fisik.
4. Emery dan Tryst (dalam Soesilo, 1989) : Psikologi lingkungan adalah hubungan antara manusia dengan lingkungan yang merupakan suatu jaringan transactional Interdependen menjadi ketergantungan satu sama lain.
5. Veicth dan Arkkelin (1995) : Psikologi lingkungan adalah ilmu perilaku multidisiplin yang memiliki orientasi dasar dan terapi yang memfokuskan interrelasi antara perilaku dan pengalaman manusia sebagai individu dengan lingkungan fisik dan sosial.
Veitch dan Arkkelin (1995) membahas unsur-unsur dari pengertian psikologi lingkungan yaitu, perilaku manusia, perspektif disiplin ilmu dan masalah teori atau praktek.
1. Para ahli psikologi menjabarkan perilaku psikologi dengan proses-proses fisiologi, psikologi, dan perilaku manusia.
a. Proses fisiologi meliputi : detak jantung, respon kulit galvonis, reflek, dsb.
b. Proses psikologi meliputi : stres, perubahan sikap, kepuasan, dsb.
c. Proses perilaku meliputi : agresi, kinerja, alturisme, dsb.
2. Dalam penelitiannya mengunakan perspektif interdipliner, dalam kaitanya psikologi lingkungan dengan perilaku manusia, maka disebutkan sejumlah teori dimana dalam perspektif ini, antara lain : metodologi dan geofisika, kimia, fisika, arsitek dan biologi. Menurut Veitch dan Arkkelin yang terlibat didalamnya antara lain :
• Geografi : beberapa ahli sejarah dan geografi mencoba menerangkan jatuh bangunnya peradapan disebabkan oleh karakteristik lingkungan. Sebagai contoh, Thoybe mengembangkan teori bahwa lingkungan adalah tantangan bagi penduduk yang tinggal di lingkungan tersebut. Tantangan lingkungan yang ekstrim akan menimbulkan rusaknya peradaban. Sedangkan yang kecil hanya akan mengakibatkan stagnasi kebudayaan. Tantangan tingkat menengah juga dapat mempengaruhi perkembangan peradaban.
Kaeakteristik lingkungan seperti : spesifik topologi, iklim, vegestasi, ketersedian air, dsb.
• Biologi Ekologi : perkembangan teori-teori ekologi adanya ketergantungan biologi dan sosiologi yang berkaitan hubungan antara manusia dengan lingkungan. Dengan berkembangnya ilmu ekologi, seorang tidak dianggap terpisah dari lingkungannya, hubungan saling tergantung antara manusia dengan lingkungan.
• Behaviorisme : pemikiran yang datang dari cabang disiplin psikologi sendiri adalah behaviorsme. Pemikiran behaviorisme muncul sebagai reaksi atas kegagalan teori-teori kepribadian untuk menerangkan prilaku manusia. Pada saat ini secara umum dapat diterima bahwa dua hal penting yang menjadi pertimbangan adalah korteks lingkungan dimana suatu perilaku muncul dan variabel-variabel personal seperti kepribadian dan atau sikap. Dua hal ini akan lebih dapat diramalkan suatu fenomena manusia dengan lingkungan daripada jika dibuat pengukuran sendiri-sendiri.
• Psikologi gestalt : berkembangnya psikologi ini berbarengan dengan behaviorisme bahkan psikologi gestalt lebih menekankan pada persepsi dan kognisi sebagai perilaku yang tampak (overt behavior). Psikologi gestalt mempunyai prinsip penting yaitu, objek-objek, orang-orang, dan seting-seting dipersepsi sebagai suatu keseluruhan. Perilaku didasarkan dari proses kognitif bukan dipengaruhi oleh proses stimulus tetapi dari persepsi terhadap stimulus. Pengaruh psikologi gestalt pada psikologi lingkungan antara lain, menjelaskan persepsi, berfikir dan pemerosesan informasi lingkungan.
C. Ruang lingkup
Menurut Proshansky (1947), psikologi lingkungan memberi perhatian terhadap manusia, tempat, serta perilaku dan pengalaman manusia yang berhubungan dengan setting fisik. Setting fisik disini bukan hanya berupa rangsangan fisik, tetapi juga termasuk sebuah kompleksitas yang terdiri dari beberapa setting fisik dimana seseorang tinggal dan melakukan aktivitasnya. Sehubungan dengan itu, bisa dikatakan pusat perhatian psikologi lingkungan adalah lingkungan binaan atau built environment.
Lebih jauh, pembahasan mengenai lingkup psikologi lingkungan juga mencakup :
1. Rancangan (desain)
2. Organisasi & pemaknaan
3. hal-hal spesifik seperti : ruang kamar, perumahan, pemilihan warna, pesawat, seting kota, tempat rekreasi, hutan alami.
Pada era ‘70-an, muncul istilah Sosiologi Lingkungan. Perbedaan pada unit analisanya seperti :
• Psikologi Lingkungan adalah pada unit analisisnya : kumpulan manuisa sebagai individu.
• Sosiologi Lingkungan : unit-unit dalam masyarakat (lebih ke sosial)
• Psikologi Lingkungan : manusia dan kumpulan manusia sebagai individu (lebih ke individu)
Ada 4 jenis lingkungan dalam Sosiologi Lingkungan yang sering juga dipakai dalam Psikologi Lingkungan, terutama 2 poin pertama :
1. Natural Environment : laut, hutan, pegunungan, gurun, dsb
2. Built Environment : jalan raya, apartemen, taman kota, lapangan bola, dsb
3. Social Environment
4. Modified Environment
D. Ambient Condition & Architectural Features
Hubungan dengan lingkungan fisik menurut Wrightman & Deaux terdapat 2 bentuk kualitas:
1. Ambient Condition : Kualitas fisik keadaan sekitar individu
misalnya : sound, cahaya, warna, temperatur, dsb
3. Architectural Features : mencakup setting-setting yang bersifat permanen. Suatu ruangan antara lain konfigurasi dinding, lantai, atap, serta peralatan perabotan dan dekorasi
Sumber :
Prabowo, H. 1998. Pengantar Psikologi Lingkungan. Seri Diktat Kuliah. Jakarta: Penerbit Gunadarma.
http://avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/psikologilingkungan_avin.pdf
Sabtu, 01 Januari 2011
don't be afrais
jika kalian kesepian,,,
masih ada aku dan mereka yg menemani kalian,,
jika kalian ingin kasih sayang,,
masih ada aku dan mereka yg sangat mencintai dan sayaang pd kalian,,
jika kalian ingin tau tentang banyak hal yg ada didunia,,
masih ada aku dan mereka yg akan berusaha mengajari tentang arti hidup ini, ssuai pengalaman,,
jika kalian ingin tau tentang banyak pelajaran,,
masih ada aku dan mereka yg akan berusaha mendidik kalian dgn baik dan sukses di kelak nanty,,
jika kalian takut diwaktu malam,,
masih ada aku dan mereka yg akan menerangi kalian diwaktu gelap,,
jika kalian kepanasan akan teriknya matahari,,
masih ada aku dan mereka yg akan meneduhkan kalian diwaktu siang,,
jika kalian sedih karna kurangnya tak seperti yg lain,,
masih ada aku dan mereka yg akan melengkapi hari-har kalian i ini,,
hingga kalian mengerti,,,
bahwa kalian,, masih punya aku dan mereka yg tak akan pernah meninggalkan kalian,,
HILANGKANLAH HAL-HAL YG KALIAN TAKUTI,,
HIDUP TERUS BERJALAN SAYAAAAANG,,
hadapi semua dengan SEMANGAT dan SENYUM untuk menyambut masa depan yg indah,,
anggaplah aku sebagai
temanmu saat diajak bermain,,
sahabatmu saat kau ingin bercerita tentang rahasia kecilmu,,
seorang ibunda saat kau inginkan kasih sayangnyaa,,
masih ada aku dan mereka yg menemani kalian,,
jika kalian ingin kasih sayang,,
masih ada aku dan mereka yg sangat mencintai dan sayaang pd kalian,,
jika kalian ingin tau tentang banyak hal yg ada didunia,,
masih ada aku dan mereka yg akan berusaha mengajari tentang arti hidup ini, ssuai pengalaman,,
jika kalian ingin tau tentang banyak pelajaran,,
masih ada aku dan mereka yg akan berusaha mendidik kalian dgn baik dan sukses di kelak nanty,,
jika kalian takut diwaktu malam,,
masih ada aku dan mereka yg akan menerangi kalian diwaktu gelap,,
jika kalian kepanasan akan teriknya matahari,,
masih ada aku dan mereka yg akan meneduhkan kalian diwaktu siang,,
jika kalian sedih karna kurangnya tak seperti yg lain,,
masih ada aku dan mereka yg akan melengkapi hari-har kalian i ini,,
hingga kalian mengerti,,,
bahwa kalian,, masih punya aku dan mereka yg tak akan pernah meninggalkan kalian,,
HILANGKANLAH HAL-HAL YG KALIAN TAKUTI,,
HIDUP TERUS BERJALAN SAYAAAAANG,,
hadapi semua dengan SEMANGAT dan SENYUM untuk menyambut masa depan yg indah,,
anggaplah aku sebagai
temanmu saat diajak bermain,,
sahabatmu saat kau ingin bercerita tentang rahasia kecilmu,,
seorang ibunda saat kau inginkan kasih sayangnyaa,,
kehidupan
hidup itu banyak yang mesti dipelajari,,
bukan hanya teori yang mendalam,,
tapi juga praktek yang maksimal,,
tidak cukup hanya dengan Science,,
ataupun logika,,
empiris berperan juga dalam menjalani kehidupan ini,,
Em,,pi,, ris,, "Pengalaman"
yang dapat dipelajari bukan hanya peristiwa pada diri sendiri tetapi "belajar dari pengalaman oranglain"
dan mengambil hal yg positifnya
dari mulai masa Infancy (kelahiran bayi) sampai masa Late Adulthood (65 keatas/sampai meninggal)
manusia akan terus belajar,,
dari mulai mata terbuka sampai mata terpejam manusia terus mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang dialaminya,,
tak terhitung apa yang sudah didapatkan,,
tak terhingga segala nikmat yang diterima,,
miliar buku yang dapat dituliskan,,
miliar copy vedio yang dapat terekam,,
cukup 1 otak manusia untuk menyimpan smua peristiwa yang terjadi,,
yaa,, secara tidak sadar terjadi,,
=> represi kejadian sblm 2011 yaitu dengan cara melupakan pengalaman yang tidak menyenangkan untuk di ingat,,
=> kompensasi di awal tahun yaitu dengan cara berusaha mengimbangi ketidakmampuan yang dilakukan secara tidak sadar dengan menonjolkan hal lain yang baik dan lebih kearah positif
^_^ semangat, tabah, berusaha dan berdoa untuk menjalani kehidupan ini
bersiap dan mempersiapkan diri selalu menemukan kejutan2 yang ada didunia ini,,
berikan hal terbaik untuk orang disekitar qta,,
terutama pada orang2 yang sudah mengajari qta pengalaman hidup,,
arti hidup dengan segala perjuangan,,
mereka adalah orang2 yang bersejarah,,
karena banyak pengalaman dari mereka untuk kita,,
bukan hanya teori yang mendalam,,
tapi juga praktek yang maksimal,,
tidak cukup hanya dengan Science,,
ataupun logika,,
empiris berperan juga dalam menjalani kehidupan ini,,
Em,,pi,, ris,, "Pengalaman"
yang dapat dipelajari bukan hanya peristiwa pada diri sendiri tetapi "belajar dari pengalaman oranglain"
dan mengambil hal yg positifnya
dari mulai masa Infancy (kelahiran bayi) sampai masa Late Adulthood (65 keatas/sampai meninggal)
manusia akan terus belajar,,
dari mulai mata terbuka sampai mata terpejam manusia terus mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang dialaminya,,
tak terhitung apa yang sudah didapatkan,,
tak terhingga segala nikmat yang diterima,,
miliar buku yang dapat dituliskan,,
miliar copy vedio yang dapat terekam,,
cukup 1 otak manusia untuk menyimpan smua peristiwa yang terjadi,,
yaa,, secara tidak sadar terjadi,,
=> represi kejadian sblm 2011 yaitu dengan cara melupakan pengalaman yang tidak menyenangkan untuk di ingat,,
=> kompensasi di awal tahun yaitu dengan cara berusaha mengimbangi ketidakmampuan yang dilakukan secara tidak sadar dengan menonjolkan hal lain yang baik dan lebih kearah positif
^_^ semangat, tabah, berusaha dan berdoa untuk menjalani kehidupan ini
bersiap dan mempersiapkan diri selalu menemukan kejutan2 yang ada didunia ini,,
berikan hal terbaik untuk orang disekitar qta,,
terutama pada orang2 yang sudah mengajari qta pengalaman hidup,,
arti hidup dengan segala perjuangan,,
mereka adalah orang2 yang bersejarah,,
karena banyak pengalaman dari mereka untuk kita,,
Kamis, 23 Desember 2010
sampai kapan????
sampai kapan,,,
harus sampai kapan ini terus terjadi,,
cacatnya hidup ini,,
karna salah dalam mengartikannya,,
lalu apa yg selanjutnya terjadi,,
ingin hentikan waktu,,
tapi tak sanggup,,
ingin hentikan hidup ini,,
tapi hina,,
tahu apa yang diperbuat dalam lingkaran yang salah,,
ingin menghapus semuanya,,
namun,, lingkaran ini akan terus terikat,,
sampai mati,,
sampai kapan??
SAMPAI MATI
harus sampai kapan ini terus terjadi,,
cacatnya hidup ini,,
karna salah dalam mengartikannya,,
lalu apa yg selanjutnya terjadi,,
ingin hentikan waktu,,
tapi tak sanggup,,
ingin hentikan hidup ini,,
tapi hina,,
tahu apa yang diperbuat dalam lingkaran yang salah,,
ingin menghapus semuanya,,
namun,, lingkaran ini akan terus terikat,,
sampai mati,,
sampai kapan??
SAMPAI MATI
Kamis, 28 Oktober 2010
proses dasar dalam kelompok
proses dasar dalam kelompok
Robbins dalam bukunya menggambarkan bahwa proses terbentuk dan berprestasinya sebuah kelompok terdiri dari tahap – tahap:
1. Forming : Tahap ini adalah fase pembentukan di mana semua anggota kelompok penuh keceriaan dan hubungan harmonis yang terjadi di antara mereka,seperti sedang berbulan madu.
2. Storming : Pada tahap ini mulailah terjadi pertengkaran dan perselisihan karena berbagai sebab. Penyebab pertama bisa saja karena visi, tujuan, dan sasaran yang harus dicapai tidak jelas atau kelompok lalu bersifat heterogen, yakni mempunyai kepentingan masing – masing yang berbeda. Tetapi semuanya mungkin bersumber pada kualitas kepemimpinan yang kurang efektif . Dalam tahap ini, bisa saja kelompok yang baru dibentuk bubar atau di reshuffle. Contoh adalah Kabinet Persatuan Nasional dalam Era Reformasi yang hanya bertahan 11 bulan.
3. Norming : adalah tahap di mana anggota kelompok mulai cooling down dan menyepakati norma dan aturan main yang akan mereka jadikan pegangan sehingga semua perbedaan pendapat dapat diselesaikan dengan mudah dan semua kepentingan anggota dapat dipenuhi.
4. Performing : Pada fase ini, kelompok telah berhasil menyelesaikan fase norming dan mulailah mereka bekerja untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan disepkati bersama.
tentu sajaselalu ada kecualian. Ada kelompok yang tidak melewati fase storming dan fase norming (yang sudah diselesaikan pada saat pembentukan kelompok)sehingga mereka langsung ke tahap performing
(Sukses sebagai manajer profesional tanpa gelar MM atau MBA)
(Oleh Achmad S. Ruky)
Robbins dalam bukunya menggambarkan bahwa proses terbentuk dan berprestasinya sebuah kelompok terdiri dari tahap – tahap:
1. Forming : Tahap ini adalah fase pembentukan di mana semua anggota kelompok penuh keceriaan dan hubungan harmonis yang terjadi di antara mereka,seperti sedang berbulan madu.
2. Storming : Pada tahap ini mulailah terjadi pertengkaran dan perselisihan karena berbagai sebab. Penyebab pertama bisa saja karena visi, tujuan, dan sasaran yang harus dicapai tidak jelas atau kelompok lalu bersifat heterogen, yakni mempunyai kepentingan masing – masing yang berbeda. Tetapi semuanya mungkin bersumber pada kualitas kepemimpinan yang kurang efektif . Dalam tahap ini, bisa saja kelompok yang baru dibentuk bubar atau di reshuffle. Contoh adalah Kabinet Persatuan Nasional dalam Era Reformasi yang hanya bertahan 11 bulan.
3. Norming : adalah tahap di mana anggota kelompok mulai cooling down dan menyepakati norma dan aturan main yang akan mereka jadikan pegangan sehingga semua perbedaan pendapat dapat diselesaikan dengan mudah dan semua kepentingan anggota dapat dipenuhi.
4. Performing : Pada fase ini, kelompok telah berhasil menyelesaikan fase norming dan mulailah mereka bekerja untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan disepkati bersama.
tentu sajaselalu ada kecualian. Ada kelompok yang tidak melewati fase storming dan fase norming (yang sudah diselesaikan pada saat pembentukan kelompok)sehingga mereka langsung ke tahap performing
(Sukses sebagai manajer profesional tanpa gelar MM atau MBA)
(Oleh Achmad S. Ruky)
Psikologi masa
A. Definisi
1. Psikologi Massa
a. Psikologi massa adalah studi mengenai tingkah laku banyak orang atau kumpulan manusia mengenai kelompok-kelompok yang terorganisir dengan longgar sekali (Kamus Lengkap Psikologi).
b. Psikologi massa adalah psikologi yang khusus mempelajari perilaku manusia dalam loosely organized group (Chaplin, 1972).
2. Massa adalah sekumpulan banyak orang (ratusan/ribuan) yang berkumpul dalam suatu kegiatan yang bersifat sementara.
B. Massa Abstrak dan Massa Kongkrit (Mennicke, 1948)
1. Massa Abstrak adalah sekumpulan orang-orang yang sama sekali belum terikat satu kesatuan, norma, motif dan tujuan.
Alasan timbul :
• ada kejadian menarik
• individu mendapat ancaman
• kebutuhan tidak terpenuhi
2. Massa Kongkrit adalah massa yang mempunyai ciri-ciri:
Ciri-ciri:
• adanya kesatuan mind dan sikap
• adanya ikatan batin dan persamaan norma
• ada struktur yang jelas
• bersifat dinamis dan emosional, sifat massa jelas
Massa Abstrak Massa Kongkret
Ego pribadi Ego massa
Tercermin dalam diri pemimpin Kepentingan masih kritis, masih kongkret
Antara masssa abstrak dan massa kongkrit kadang-kadang mempunyai
hubungan, dalam arti bahwa masa abstrak dapat berkembang atau berubah
menjadi massa yang kongkrit dan sebaliknya masa kongkrit dapat berubah
menjadi massa abstrak. Tetapi ada kalanya masa abstrak bubar tanpa adanya
bekas.
C. Massa Aktif dan Massa Pasif (Park dan Burges)
1. Massa aktif yang disebut dengan mob terbentuk karena telah adanya
tindakan-tindakan nyata, misalnya demonstrasi, perkelahian massal, dsb
Menurut Mc Laughlin, paling tidak ada 3 kondisi yang melatarbelakangi,
yaitu:
• adanya problem yang cukup serius
• upaya penyelesaian problem yang tertunda
• adanya keyakinan dalam kelompok massa bahwa problem harus
diselesaikan
Faktor-faktor yang menyebabkan massa aktif :
• perasaan tidak puas
→ bertukar pikiran → ide baru → perbuatan yang selalu diulang →
jika sudah matang ‘massa’
• tekanan jiwa masyarakat
→ memuncak dan meledak
2. Massa pasif yang disebut dengan audience adalah kumpulan orang-
orang yang belum melakukan tindakan nyata, misalnya orang-orang
berkumpul untuk mendengarkan ceramah, menonton sepakbola, dll
D. Gerakan Massa
Jenis-jenis Gerakan Massa (Danzigers)
1. Gerakan Massa Progresif
→ merombak norma lama, membentuk norma baru
2. Gerakan Massa Status Quo
→ mempertahankan norma lama (konservatif)
3. Gerakan Massa Reaksioner
→ orang yang bersikap untung-untungan
→ lebih lunak/fleksibel, tidak tegas yang penting golongannya tidak
dirugikan
Penyebab Gerakan Massa
Salah satu pandangan berpendapat bahwa manusia itu merupakan
Penyebab Gerakan Massa
Salah satu pandangan berpendapat bahwa manusia itu merupakan
individu yang mempunyai dorongan-dorongan atau keinginan-keinginan yang
pada prinsipnya membutuhkan pemuasan atau pemenuhan. Tetapi dalam
kenyataannya tidak semua dorongan atau keinginan itu dapat dilaksanakan
secara baik. Dorongan atau keinginan yang tidak memperoleh pelepasan,
terdorong dan tersimpan dalam alam bawah sadar, yang pada suatu ketika akan
muncul kembali diatas sadar bila keadaan memungkinkan.
Salah satu pendapat yang dikemukakan oelh Freud bahwa struktur pribadi
manusia terdiri dari 3 bagian, yaitu das es atau the id, yaitu berupa dorongan-
dorongan yang pada dasarnya dorongan-dorongan tersebut membutuhkan
pemenuhan, ingin muncul dan ingin keluar. Yang kedua adalah das ich atau the
ego, yang merupakan sensor untuk menyesuaikan dengan keadaan sekitarnya
terutama dengan norma-norma. Yang ketiga, yaitu das uber ich atau the
super ego, merupakan kata hati yang berhubungan dengan moral baik buruk.
Dalam kehidupan bermasyarakat adanya norma-norma tertentu yang
merupakan pedoman-pedoman yang membatsi gerak atau perilaku anggota
masyarakat. Dengan adanya norma-norma itu sebagai anggota masyarakat yang
baik tidak dapat berbuat seenaknya. Ini berarti bahwa norma-norma itu
berfungsi menyesuaikan dengan keadaan lingkungan, yaitu menyesuaikan
dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.
Atas dasar uraian diatas dapat dikemukakan salah satu analisis mengenai
perbuatan massa adalah berdasarkan atas faktor psikologis yang mendasarinya, yaitu orang bertindak dalam massa atas dorongan-dorongan yang muncul dari
bawah sadar yang semula ditekannya. Karena itu bila banyak hal ditekan
merupakan suatu pertanda yang kurang baik, sebab pada suatu waktu dapat
muncul dipermukaan bila keadaannya memungkinkan, slah satu bentuk adalah
dalam massa.
Proses Dinamika Gerakan Massa
1. Pemusatan perhatian
2. Penciptaan suasana kebersamaan
3. Pusat rasa kagum dan perasaan berada pada suatu massa
4. Pemimpin membayar massa kemana aktivitas akan massa akan dituju
E. Individu Dalam Massa
• Kehilangan kepribadian yang sadar dan rasional, tindakan kasar dan
irasional, menurut secar membabi buta pada pemimpin
• Melakukan hal-hal yang berlawanan dengan kebiasaan → agresi
Teori frustasi-agresi dari Fuller-Miller, mengemukakan:
• agresivitas merupakan cerminan dari frustasi yang dirasakan oleh massa
• kuat lemahnya tergantung besar kecilnya hambatan dalam mencapai
tujuan tersebut
Menurut Sidis, individu dalam massa akan terkena hipnotis bentuk ringan
sehingga pertimbangan kritis hilang
Kondisi Psikologis Individu Dalam Massa
Menurut Gustave Le Bon, massa itu mempunyai sifat-sifat psikologis
tersendiri. Orang yang tergabung dalam suatu massa akan berbuat sesuatu,
yang perbuatan tersebut tidak akan diperbuat bila individu itu tidak tergabung
dalam suatu massa. Sehingga massa itu seakan-akan mempunyai daya
melarutkan individu dalam suatu massa, melarutkan individu dalam jiwa massa.
Seperti yang dikemukakan oleh Durkheim bahwa adnaya individual mind dan
collective mind, yang berbeda satu dengan yang lain. Menurut Gustave Le Bon
dalam massa itu terdapat apa yang dinamakan hukum mental unity atau law
mental unity, yaitu bahwa massa adalah kesatuan mind, kesatuan jiwa.
Menurut Allport, sekalipun kurang dapat menyetujui tentang collective
mind tetapi dapat memahami tentang pemikiran adanya kesamaan (conformity),
tidak hanya dalam hal berpikir dan kepercayaan, tetapi juga dalam hal perasaan
(feeling) dan dalam perbuatan yang tampak (overt behaviour).
(Oleh : Klara Innata Arishanti, S.Psi)
1. Psikologi Massa
a. Psikologi massa adalah studi mengenai tingkah laku banyak orang atau kumpulan manusia mengenai kelompok-kelompok yang terorganisir dengan longgar sekali (Kamus Lengkap Psikologi).
b. Psikologi massa adalah psikologi yang khusus mempelajari perilaku manusia dalam loosely organized group (Chaplin, 1972).
2. Massa adalah sekumpulan banyak orang (ratusan/ribuan) yang berkumpul dalam suatu kegiatan yang bersifat sementara.
B. Massa Abstrak dan Massa Kongkrit (Mennicke, 1948)
1. Massa Abstrak adalah sekumpulan orang-orang yang sama sekali belum terikat satu kesatuan, norma, motif dan tujuan.
Alasan timbul :
• ada kejadian menarik
• individu mendapat ancaman
• kebutuhan tidak terpenuhi
2. Massa Kongkrit adalah massa yang mempunyai ciri-ciri:
Ciri-ciri:
• adanya kesatuan mind dan sikap
• adanya ikatan batin dan persamaan norma
• ada struktur yang jelas
• bersifat dinamis dan emosional, sifat massa jelas
Massa Abstrak Massa Kongkret
Ego pribadi Ego massa
Tercermin dalam diri pemimpin Kepentingan masih kritis, masih kongkret
Antara masssa abstrak dan massa kongkrit kadang-kadang mempunyai
hubungan, dalam arti bahwa masa abstrak dapat berkembang atau berubah
menjadi massa yang kongkrit dan sebaliknya masa kongkrit dapat berubah
menjadi massa abstrak. Tetapi ada kalanya masa abstrak bubar tanpa adanya
bekas.
C. Massa Aktif dan Massa Pasif (Park dan Burges)
1. Massa aktif yang disebut dengan mob terbentuk karena telah adanya
tindakan-tindakan nyata, misalnya demonstrasi, perkelahian massal, dsb
Menurut Mc Laughlin, paling tidak ada 3 kondisi yang melatarbelakangi,
yaitu:
• adanya problem yang cukup serius
• upaya penyelesaian problem yang tertunda
• adanya keyakinan dalam kelompok massa bahwa problem harus
diselesaikan
Faktor-faktor yang menyebabkan massa aktif :
• perasaan tidak puas
→ bertukar pikiran → ide baru → perbuatan yang selalu diulang →
jika sudah matang ‘massa’
• tekanan jiwa masyarakat
→ memuncak dan meledak
2. Massa pasif yang disebut dengan audience adalah kumpulan orang-
orang yang belum melakukan tindakan nyata, misalnya orang-orang
berkumpul untuk mendengarkan ceramah, menonton sepakbola, dll
D. Gerakan Massa
Jenis-jenis Gerakan Massa (Danzigers)
1. Gerakan Massa Progresif
→ merombak norma lama, membentuk norma baru
2. Gerakan Massa Status Quo
→ mempertahankan norma lama (konservatif)
3. Gerakan Massa Reaksioner
→ orang yang bersikap untung-untungan
→ lebih lunak/fleksibel, tidak tegas yang penting golongannya tidak
dirugikan
Penyebab Gerakan Massa
Salah satu pandangan berpendapat bahwa manusia itu merupakan
Penyebab Gerakan Massa
Salah satu pandangan berpendapat bahwa manusia itu merupakan
individu yang mempunyai dorongan-dorongan atau keinginan-keinginan yang
pada prinsipnya membutuhkan pemuasan atau pemenuhan. Tetapi dalam
kenyataannya tidak semua dorongan atau keinginan itu dapat dilaksanakan
secara baik. Dorongan atau keinginan yang tidak memperoleh pelepasan,
terdorong dan tersimpan dalam alam bawah sadar, yang pada suatu ketika akan
muncul kembali diatas sadar bila keadaan memungkinkan.
Salah satu pendapat yang dikemukakan oelh Freud bahwa struktur pribadi
manusia terdiri dari 3 bagian, yaitu das es atau the id, yaitu berupa dorongan-
dorongan yang pada dasarnya dorongan-dorongan tersebut membutuhkan
pemenuhan, ingin muncul dan ingin keluar. Yang kedua adalah das ich atau the
ego, yang merupakan sensor untuk menyesuaikan dengan keadaan sekitarnya
terutama dengan norma-norma. Yang ketiga, yaitu das uber ich atau the
super ego, merupakan kata hati yang berhubungan dengan moral baik buruk.
Dalam kehidupan bermasyarakat adanya norma-norma tertentu yang
merupakan pedoman-pedoman yang membatsi gerak atau perilaku anggota
masyarakat. Dengan adanya norma-norma itu sebagai anggota masyarakat yang
baik tidak dapat berbuat seenaknya. Ini berarti bahwa norma-norma itu
berfungsi menyesuaikan dengan keadaan lingkungan, yaitu menyesuaikan
dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.
Atas dasar uraian diatas dapat dikemukakan salah satu analisis mengenai
perbuatan massa adalah berdasarkan atas faktor psikologis yang mendasarinya, yaitu orang bertindak dalam massa atas dorongan-dorongan yang muncul dari
bawah sadar yang semula ditekannya. Karena itu bila banyak hal ditekan
merupakan suatu pertanda yang kurang baik, sebab pada suatu waktu dapat
muncul dipermukaan bila keadaannya memungkinkan, slah satu bentuk adalah
dalam massa.
Proses Dinamika Gerakan Massa
1. Pemusatan perhatian
2. Penciptaan suasana kebersamaan
3. Pusat rasa kagum dan perasaan berada pada suatu massa
4. Pemimpin membayar massa kemana aktivitas akan massa akan dituju
E. Individu Dalam Massa
• Kehilangan kepribadian yang sadar dan rasional, tindakan kasar dan
irasional, menurut secar membabi buta pada pemimpin
• Melakukan hal-hal yang berlawanan dengan kebiasaan → agresi
Teori frustasi-agresi dari Fuller-Miller, mengemukakan:
• agresivitas merupakan cerminan dari frustasi yang dirasakan oleh massa
• kuat lemahnya tergantung besar kecilnya hambatan dalam mencapai
tujuan tersebut
Menurut Sidis, individu dalam massa akan terkena hipnotis bentuk ringan
sehingga pertimbangan kritis hilang
Kondisi Psikologis Individu Dalam Massa
Menurut Gustave Le Bon, massa itu mempunyai sifat-sifat psikologis
tersendiri. Orang yang tergabung dalam suatu massa akan berbuat sesuatu,
yang perbuatan tersebut tidak akan diperbuat bila individu itu tidak tergabung
dalam suatu massa. Sehingga massa itu seakan-akan mempunyai daya
melarutkan individu dalam suatu massa, melarutkan individu dalam jiwa massa.
Seperti yang dikemukakan oleh Durkheim bahwa adnaya individual mind dan
collective mind, yang berbeda satu dengan yang lain. Menurut Gustave Le Bon
dalam massa itu terdapat apa yang dinamakan hukum mental unity atau law
mental unity, yaitu bahwa massa adalah kesatuan mind, kesatuan jiwa.
Menurut Allport, sekalipun kurang dapat menyetujui tentang collective
mind tetapi dapat memahami tentang pemikiran adanya kesamaan (conformity),
tidak hanya dalam hal berpikir dan kepercayaan, tetapi juga dalam hal perasaan
(feeling) dan dalam perbuatan yang tampak (overt behaviour).
(Oleh : Klara Innata Arishanti, S.Psi)
Langganan:
Postingan (Atom)