Sabtu, 29 Mei 2010

AKIBAT INFEKSI OTAK DAN CAMPAK

Dr. Soemarno Wignyosumarto, Ph.D, yang selama tiga tahun (1998 – 1991) meneliti khusus penderita autis menyatakan kelainan tersebut memang harus ditangani secara khusus. Dari 5.650 anak di Yogyakarta, semula diduga ada 150 penderita autis. Tetapi setelah dilakukan penyaringan ketat, ternyata hanya 6 anak. Tingkat kecerdasan (IQ) mereka rata-rata rendah di bawah 70. Hasil penelitian menunjukkan, 30% di antara mereka mempunyai IQ 70, 30% lagi ber-IQ 50 – 70, sisanya di bawah 50.
Penderita autis jelas tidak mempunyai bakat tertentu. Tapi tidak bias pula diabaikan. Sebab dalam beberapa hal masih ada kolam dari unsure kognitifnya yang masih sempurna. “Tak heran kalau ada yang bias menghafal syair lagu secara penuh dan benar sekalipun dalam bahasa asing dan baru sekali saja mendengarnya,” kata Dr. Soemarno. Malah, pernah seorang pasien autis ketika dicoba melihat jadwal pemberangkatan kereta api di Stasiun Tugu, Yogyakarta, mampu menuturkan secara lengkap. Di sinilah kita membedakan kemampuan antara penderita cacat mental dan autis.
Dr. Soemarno dalam penelitian lewat disertasinya Epidemio logical and Clinical Study of Autistic Children in Yogyakarta menyatakan, anak autis kebanyakan disebabkan oleh infeksi pada otak janin, karena sang Ibu menderita campak sewaktu hamil. Bias juga akibat anak menderita radang otak pada saat berusia kurang dari 2,5 Tahun. Ternyata juga tidak semua penderita berasal dari keluarga mampu atau terpelajar seperti yang pernah dikemukakan oleh Dr. Connor, psikiater dari Jerman.
Kalau angka internasional mencatat anak penderita autis berkisar antara 2 dan 4 per mil atau 2 – 4 penderita setiap 10.000 kelahiran, angka yang diperoleh Soemarno justru lebih tinggi. Dari setiap 10.000 kelahiran, ada sekitar 12 per mil atau 12 penderita.
Penanganan anak autis menurut ayah 4 anak ini memang harus di sekolah khusus, bukan di SLB untuk retardasi mental. Penanganannya membutuhkan kecermatan, dan harus sedini mungkin. Di atas 6 tahun tidak akan memperoleh hasil maksimal. Begitu terdetekdi (biasanya oleh dokter anak atau psikiater), orang tua harus membina hubungan yang akrab dan berusaha untuk berkomunikasi dengan si anak. Setidaknya mereka akan tahu apa arti tertawa, menangis, amkan, mengatakan “Tidak” atau “Ya”, dsb. Setelah anak masuk sekolah, sangat diperlukan kerja sama yang baik antara guru, psikiater, dan orang tua. Anak autis memang tidak bias disembuhkan secara sempurna namun dengan penanganan sedini mungkin, diharapkan penderita bias lebih mandiri kelak.

(buku : Kumpulan Artikel Psikologi anak 1)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar